Oleh: Ayunita Holy Suhita, S.Pd.
Selama lebih dari dua puluh tahun mendampingi anak-anak dan orangtua dalam perjalanan tumbuh kembang mereka, Holy Yadha menyadari satu hal menarik: banyak keluarga merasa sudah menjalankan tugasnya ketika semua jadwal, target, dan tanggung jawab anak terpenuhi. Namun sesungguhnya, kehidupan anak tidak hanya dibentuk oleh hal-hal yang terlihat dan terukur, melainkan juga oleh yang tak terjadwal dan tak kelihatan - seperti perhatian, sentuhan kasih, dan kehadiran emosional orangtua.
Kita mungkin selalu memastikan anak hadir di kelas, mengerjakan PR, dan meraih nilai baik. Tapi jarang sekali kita jadwalkan waktu untuk sekadar bertanya,
“Apa yang kamu pelajari hari ini?”“Apa yang kamu rasakan ketika belajar?”
Pertanyaan sederhana ini bisa menjadi jendela besar menuju dunia batin anak - dunia yang sering luput dari perhatian karena tak tertulis di kalender.
🧠 Belajar Adalah Proses Relasional
Manurut Urie Bronfenbrenner, seorang ahli dalam bidang psikologi perkembangan, melalui Ecological Systems Theory, menegaskan bahwa lingkungan sosial terdekat - terutama keluarga - memiliki pengaruh langsung terhadap perilaku dan semangat belajar anak. Hubungan yang stabil, penuh perhatian, dan hangat menjadi fondasi munculnya rasa aman, yang kemudian menumbuhkan motivasi belajar dari dalam diri.
