Jumat, 23 Januari 2026

Sekolah PAUD Bukan Sekadar Tempat Menitipkan Anak

Sekolah PAUD adalah tempat masa depan mulai dibentuk

Masih banyak orang tua yang tanpa disadari memandang PAUD sebagai sekadar tempat menitipkan anak - agar anak aman, ada yang menjaga, dan orang tua dapat beraktivitas dengan tenang. Padahal, PAUD adalah ruang pembentukan fondasi kehidupan, tempat anak belajar berpikir, bersikap, berempati, serta membangun kesiapan belajar jangka panjang.

Usia 2 - 6 tahun merupakan masa golden age, yaitu masa emas yang hanya terjadi satu kali dan tidak akan pernah terulang. Pada fase ini, perkembangan otak, emosi, dan karakter anak berlangsung sangat pesat. Setiap stimulasi dan pendampingan akan membekas kuat. Ketika masa ini terlewat atau tidak dioptimalkan dengan tepat, dampaknya sering kali baru terasa di kemudian hari - dan bila saat itu terjadi, penyesalan kerap datang karena waktu tidak dapat diulang kembali.

Pengalaman Panjang yang Terbukti Memberi Hasil

Sejak tahun 2005, PAUD/TK HOLY YADHA telah berpengalaman lebih dari 21 tahun dalam mendampingi dan membina anak usia dini. Pengalaman ini membentuk pemahaman mendalam bahwa setiap anak adalah individu unik yang membutuhkan pendekatan tepat sesuai tahap tumbuh kembangnya.

Banyak lulusan Holy Yadha terbukti mampu beradaptasi dengan baik, percaya diri, dan berprestasi saat melanjutkan pendidikan ke Sekolah Dasar Negeri unggulan maupun Sekolah Dasar Nasional Plus. Hal ini menjadi bukti bahwa pendidikan usia dini yang dijalankan dengan benar akan memberikan dampak nyata dan berkelanjutan.

Pendidikan Dini adalah Keputusan Strategis Orang Tua

Di tengah meningkatnya standar pendidikan dan pesatnya perkembangan teknologi, anak membutuhkan bekal yang kuat sejak dini. PAUD bukan formalitas, melainkan tahap krusial dalam mempersiapkan anak agar mampu berkompetisi, beradaptasi, dan berprestasi di masa depan.

Di PAUD/TK Holy Yadha, pembelajaran dilakukan melalui pendekatan belajar sambil bermain dalam lingkungan yang aman, menyenangkan, penuh kasih, dan perhatian. Didukung oleh guru-guru berpengalaman dengan latar belakang pendidikan S1 Pendidikan Guru Taman Kanak-kanak (PGTK), setiap anak mendapatkan perhatian individual untuk membangun kemandirian, kemampuan sosial, karakter positif, serta kecintaan terhadap belajar sejak usia dini.

Investasi Hari Ini, Dampak Seumur Hidup

Memilih PAUD berarti memilih pondasi masa depan anak. Keputusan yang tepat hari ini akan menjadi bekal berharga seumur hidup, sementara keputusan yang terlambat atau kurang tepat berisiko meninggalkan penyesalan di kemudian hari.


📌 Pendaftaran PAUD/TK Holy Yadha Tahun Ajaran 2026/2027 telah dibuka!!! 🔊🔊🔊🌟😃🥰🙏

Setiap pilihan hari ini akan membentuk karakter, kebiasaan, dan kepercayaan diri anak di masa depan. Jangan biarkan masa emas berlalu tanpa arah - pilihlah lingkungan belajar yang tepat, aman, dan penuh makna, karena kesempatan terbaik untuk membangun fondasi hidup anak hanya datang satu kali.


Mari bersama-sama menjaga masa emas anak dengan penuh perhatian.
Sebab masa depan yang baik tumbuh dari keputusan penuh cinta sejak usia dini.

PAUD/TK Holy Yadha siap mendampingi setiap langkah awal ananda, menghadirkan lingkungan belajar yang aman, nyaman, dan bermakna sebagai fondasi terbaik bagi masa depan mereka.


Daftarkan Putra/Putri Anda segera, karena kesempatan terbaik untuk tumbuh dan belajar demi masa depan gemilang penuh harapan tidak datang dua kali.

Untuk informasi pendaftaran dan konsultasi, orang tua dapat menghubungi nomor berikut:
📞 0813 - 8985 - 7878

Selasa, 13 Januari 2026

Menjaga Kesehatan Saat Banjir dan Pasca Banjir

Hujan turun sejak pagi. Jalanan mulai tergenang, aktivitas melambat, dan sebagian dari kita harus beradaptasi dengan kondisi yang tidak biasa. Banjir memang sering datang tanpa diundang - membawa air, lumpur, sampah, dan sayangnya juga berbagai risiko kesehatan yang kerap luput dari perhatian.

Di balik genangan air yang terlihat sepele, tersimpan ancaman yang tidak boleh dianggap ringan. Air banjir dapat menjadi media penyebaran kuman dan bakteri penyebab penyakit. Terlebih bagi anak-anak, yang secara alami gemar bermain dan menyentuh lingkungan sekitar, kondisi ini memerlukan kewaspadaan ekstra dari orang dewasa.



Saat Air Naik, Risiko Ikut Meningkat

Pada masa banjir hingga setelah air benar-benar surut, risiko berbagai penyakit seperti diare, penyakit kulit, infeksi saluran pernapasan, hingga demam berdarah cenderung meningkat. Lingkungan yang lembap dan kurang bersih menjadi tempat yang ideal bagi kuman dan nyamuk untuk berkembang biak, sehingga anak-anak menjadi kelompok yang paling rentan. Di sinilah peran menjaga kebersihan diri dan lingkungan menjadi sangat penting. Dengan kebiasaan hidup bersih dan perhatian terhadap kebersihan sekitar, kita dapat melindungi kesehatan anak serta menciptakan lingkungan yang lebih aman dan nyaman untuk mereka beraktivitas dan belajar kembali.


Kebiasaan Kecil yang Berdampak Besar

Salah satu langkah paling sederhana namun efektif untuk mencegah penyakit adalah mencuci tangan secara rutin. Pastikan mencuci tangan menggunakan sabun dan air yang mengalir, terutama setelah:

  • Beraktivitas di area yang terdampak banjir.
  • Membersihkan rumah atau lingkungan.
  • Sebelum makan dan setelah dari toilet.

Selain itu, gunakan alas kaki saat beraktivitas di area yang masih basah atau berlumpur untuk menghindari infeksi kulit.


Menjaga Kebersihan Lingkungan

Saat air banjir perlahan surut dan aktivitas belajar mulai bersiap kembali, peran kita sebagai pendidik dan orang tua belum selesai. Lingkungan sekolah dan sekitar tempat tinggal anak perlu dibersihkan dengan penuh perhatian. Sampah yang terbawa banjir harus dibuang pada tempatnya, genangan air dikeringkan, serta saluran air dipastikan kembali berfungsi dengan baik. Lingkungan yang bersih dan sehat sangat penting bagi anak usia dini, karena mereka masih rentan terhadap penyakit. Dengan membersihkan lingkungan pasca banjir secara menyeluruh, kita tidak hanya menciptakan suasana belajar yang nyaman dan aman, tetapi juga melindungi tumbuh kembang anak dari kuman dan nyamuk penyebab penyakit.


Peran Keluarga dan Komunitas

Menjaga kesehatan bukanlah tanggung jawab satu orang saja, melainkan upaya bersama yang melibatkan keluarga, sekolah, dan komunitas. Ketiganya memiliki peran penting untuk saling mengingatkan, bekerja sama, dan menumbuhkan kebiasaan hidup bersih dan sehat dalam keseharian anak. Di rumah, orang tua membiasakan pola hidup sehat; di sekolah, guru menciptakan lingkungan belajar yang aman dan higienis; sementara di komunitas, kebiasaan baik diperkuat melalui kepedulian bersama. Keteladanan orang dewasa - melalui tindakan sederhana seperti menjaga kebersihan, mencuci tangan, dan peduli lingkungan - akan menjadi pelajaran paling bermakna bagi anak-anak, sekaligus fondasi penting bagi tumbuh kembang mereka di masa depan.


Penutup

Kondisi banjir memang membawa tantangan tersendiri, terutama bagi anak-anak dan keluarga. Namun, dengan disiplin menjaga kebersihan serta konsisten menerapkan protokol kesehatan, risiko munculnya penyakit dapat diminimalkan. Langkah-langkah sederhana seperti mencuci tangan dengan air mengalir, membersihkan lingkungan sekitar, dan memastikan area bermain serta belajar tetap higienis merupakan wujud kepedulian terhadap kesehatan diri sendiri dan orang lain. Mari bersama-sama tetap waspada, saling peduli, dan menjaga kesehatan agar anak-anak dapat kembali beraktivitas dan belajar dengan aman serta nyaman.


Ayo Ambil Peran Sekarang

Melindungi kesehatan anak usia dini adalah prioritas utama kita bersama.

✔ Dampingi anak mencuci tangan dengan sabun dan air mengalir secara rutin;
✔ Ajarkan kebiasaan hidup bersih melalui contoh sederhana di rumah;
✔ Pastikan area bermain anak bersih dan aman dari sisa lumpur atau genangan air;
✔ Bangun komunikasi positif antara orang tua, pendidik, dan lingkungan sekitar.

Anak yang sehat adalah fondasi tumbuh kembang yang optimal. Peran aktif orang dewasa hari ini akan menentukan kualitas kesehatan anak di masa depan.

Mari bersama menciptakan lingkungan belajar dan bermain yang bersih, aman, dan sehat bagi anak-anak kita.


Holy Yadha.

Rabu, 05 November 2025

🌿 Yang Tak Terjadwal dan Tak Kelihatan.

 Oleh: Ayunita Holy Suhita, S.Pd.

Selama lebih dari dua puluh tahun mendampingi anak-anak dan orangtua dalam perjalanan tumbuh kembang mereka, Holy Yadha menyadari satu hal menarik: banyak keluarga merasa sudah menjalankan tugasnya ketika semua jadwal, target, dan tanggung jawab anak terpenuhi. Namun sesungguhnya, kehidupan anak tidak hanya dibentuk oleh hal-hal yang terlihat dan terukur, melainkan juga oleh yang tak terjadwal dan tak kelihatan - seperti perhatian, sentuhan kasih, dan kehadiran emosional orangtua.

Kita mungkin selalu memastikan anak hadir di kelas, mengerjakan PR, dan meraih nilai baik. Tapi jarang sekali kita jadwalkan waktu untuk sekadar bertanya,

“Apa yang kamu pelajari hari ini?”
“Apa yang kamu rasakan ketika belajar?”

Pertanyaan sederhana ini bisa menjadi jendela besar menuju dunia batin anak - dunia yang sering luput dari perhatian karena tak tertulis di kalender.




🧠 Belajar Adalah Proses Relasional

Manurut Urie Bronfenbrenner, seorang ahli dalam bidang psikologi perkembangan, melalui Ecological Systems Theory, menegaskan bahwa lingkungan sosial terdekat - terutama keluarga - memiliki pengaruh langsung terhadap perilaku dan semangat belajar anak. Hubungan yang stabil, penuh perhatian, dan hangat menjadi fondasi munculnya rasa aman, yang kemudian menumbuhkan motivasi belajar dari dalam diri.

Sejalan dengan itu, Lev Vygotsky dalam teori Zona Perkembangan Proksimal menjelaskan bahwa kemampuan anak berkembang paling optimal ketika ia didampingi secara emosional dan sosial oleh orang dewasa atau teman sebaya yang suportif. Interaksi dan bimbingan yang penuh empati membuat anak berani mencoba hal baru, berpikir lebih dalam, dan tidak takut salah.

Sementara Daniel Goleman melalui konsep Emotional Intelligence menegaskan bahwa keberhasilan anak tidak hanya ditentukan oleh kemampuan intelektual, tetapi juga oleh kecerdasan emosional - kemampuan untuk memahami, mengelola, dan merespons perasaan diri sendiri maupun orang lain. Anak yang merasa dicintai dan diperhatikan akan lebih fokus, gigih, dan mampu menghadapi tekanan belajar dengan tenang.

Dari ketiga pandangan ini, tampak benang merah yang sangat jelas: perhatian emosional dan hubungan sosial yang positif merupakan fondasi utama keberhasilan belajar anak. Belajar bukanlah sekadar proses kognitif, melainkan proses relasional - tempat di mana anak tumbuh melalui kelekatan, rasa aman, dan kasih sayang yang ia rasakan dari lingkungan terdekatnya. Dengan kata lain, ketika hati anak terhubung, pikirannya akan terbuka untuk belajar.

💬 Suara Ahli Lokal: Pendidikan dari Hati

Ahli psikologi Prof. Dr. Sarlito Wirawan Sarwono menegaskan bahwa penerimaan tanpa syarat dari orangtua menjadi sumber utama kepercayaan diri anak dalam belajar dan bersosialisasi. Anak yang merasa diterima apa adanya tumbuh dengan rasa aman untuk bereksplorasi dan tidak takut salah - fondasi penting dalam proses belajar sejati. Senada dengan itu, Dr. Rose Mini Agoes Salim (Bunda Romy) menekankan pentingnya keterlibatan aktif orangtua dalam percakapan harian. Saat orangtua mendengarkan tanpa menghakimi dan hadir dengan empati, anak belajar memahami diri serta membangun motivasi belajar yang lahir dari cinta, bukan tekanan.

Pandangan ini sejalan dengan Ki Hajar Dewantara, yang menekankan bahwa pendidikan sejati bukan sekadar mengajar, tetapi menuntun kodrat anak agar mencapai kebahagiaan dan keselamatan setinggi-tingginya. Setiap anak memiliki potensi unik yang perlu diarahkan dengan kasih dan keteladanan, bukan sekadar perintah. Ketiganya mengingatkan kita bahwa pendidikan bermakna berawal dari hubungan yang manusiawi - ketika orangtua dan pendidik hadir dengan hati, empati, dan ketulusan, anak tumbuh menjadi pribadi yang percaya diri, mandiri, dan berkarakter kuat.

🌱 Antara yang Terlihat dan Tak Terlihat

Di lingkungan Holy Yadha, kami percaya bahwa keberhasilan belajar anak bukan hanya diukur dari nilai dan kehadiran, tetapi juga dari dukungan emosional yang konsisten dari rumah dan sekolah. Anak yang merasa aman dan diperhatikan akan belajar dengan semangat yang tumbuh dari dalam dirinya. Sebaliknya, anak yang jarang mendapat perhatian emosional sering kali kehilangan fokus, enggan belajar, atau menarik diri. Dalam banyak kasus, masalahnya bukan terletak pada kemampuan, melainkan pada keterhubungan.

💡 Menjadwalkan yang Tak Terjadwal

Mendampingi anak bukan hanya soal memberi arahan, tetapi juga menciptakan momen bermakna yang sering kali sederhana:

  1. Mendengarkan cerita anak tanpa tergesa.
  2. Mengapresiasi usaha, bukan hanya hasil.
  3. Menyediakan waktu tenang untuk belajar atau bermain bersama.

Sebagaimana disampaikan Maria Montessori:

“Setiap anak memiliki nyala api dalam dirinya.
Tugas pendidikan adalah menyalakan, bukan memadamkannya.”

Mari kita mulai menjadwalkan hal-hal yang tak tercatat - perhatian, empati, dan waktu berkualitas. Di situlah nilai kehidupan tertanam dan semangat belajar tumbuh secara alami.

"Yang tak terjadwal dan tak kelihatan sering kali justru menjadi pondasi kehidupan anak yang paling kuat dan abadi."

Kasih sayang, perhatian, dan komunikasi yang hangat adalah investasi jangka panjang bagi karakter dan keberhasilan mereka di masa depan. Mari, sebagai orangtua dan pendidik, kita berkolaborasi menumbuhkan generasi pembelajar yang tidak hanya cerdas secara akademis, tetapi juga tangguh secara emosional dan spiritual. Karena sesungguhnya, kehadiran kita adalah kurikulum pertama bagi anak-anak kita. 

Tulisan ini dipersembahkan oleh Holy Yadha sebagai refleksi dan ajakan bagi para orangtua serta pendidik untuk terus menumbuhkan kesadaran dan semangat belajar anak-anak, dengan hati dan cinta yang tulus.


📚 Daftar Pustaka

Bronfenbrenner, U. (1979). The Ecology of Human Development. Harvard University Press.
Vygotsky, L. S. (1978). Mind in Society. Harvard University Press.
Goleman, D. (1995). Emotional Intelligence. Bantam Books.
Montessori, M. (1967). The Absorbent Mind. Holt, Rinehart and Winston.
Sarwono, S. W. (2002). Psikologi Remaja. Rajawali Press.
Salim, R. M. A. (2018). Orangtua Hebat Membangun Karakter Anak Sejak Dini. Elex Media Komputindo.
Dewantara, K. H. (1967). Pendidikan. Majelis Luhur Persatuan Taman Siswa.

Rabu, 01 Oktober 2025

Memperingati Hari Kesaktian Pancasila: Menanamkan Nilai Luhur Sejak Usia Dini.

Tanggal 1 Oktober setiap tahunnya, bangsa Indonesia memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Peringatan ini menjadi momen penting untuk mengenang jasa para Pahlawan Revolusi yang telah berkorban demi tegaknya Pancasila sebagai dasar negara dan pemersatu bangsa.

Pancasila bukan hanya sekadar simbol atau dasar negara, melainkan juga pedoman hidup bangsa yang mengandung nilai luhur: ketuhanan, kemanusiaan, persatuan, musyawarah, dan keadilan sosial. Nilai-nilai tersebut adalah pilar utama dalam membentuk karakter generasi penerus bangsa.

Pancasila dan Pendidikan Anak Usia Dini

Dalam dunia pendidikan anak usia dini, Pancasila memiliki peran yang sangat relevan. Anak-anak adalah generasi penerus bangsa, sehingga sejak dini mereka perlu dikenalkan dengan nilai-nilai yang terkandung dalam Pancasila. Bukan dengan hafalan semata, tetapi melalui pembiasaan dalam kehidupan sehari-hari, seperti:

  • Menghormati dan berdoa kepada Tuhan sesuai dengan agama dan kepercayaan masing-masing.

  • Belajar berbagi dan peduli kepada teman.

  • Bermain bersama dengan rukun tanpa membeda-bedakan.

  • Mendengarkan guru dan orang tua sebagai bentuk hormat dan taat.

  • Bekerja sama dalam kegiatan kelas atau permainan kelompok.

Dengan cara sederhana ini, anak-anak belajar menanamkan nilai Pancasila dalam kehidupan mereka, sehingga tumbuh menjadi pribadi yang cerdas, berkarakter, dan berakhlak mulia.



Menghidupi Semangat Pancasila

Momentum Hari Kesaktian Pancasila mengingatkan kita bahwa perjuangan para pahlawan harus diteruskan dengan cara mendidik generasi muda. Sebagai orang tua, guru, dan masyarakat, kita memiliki peran penting untuk menjadi teladan dalam menghidupi semangat Pancasila.

Mari kita jadikan nilai Pancasila sebagai nafas dalam kehidupan sehari-hari, mulai dari lingkungan keluarga hingga sekolah. Dengan demikian, kita dapat membentuk generasi emas Indonesia yang tangguh, cinta tanah air, dan siap menghadapi tantangan masa depan.

Pancasila kokoh, generasi emas tangguh! 

Jumat, 19 September 2025

🌱Laporan Perkembangan Belajar Murid Triwulan 1 di PAUD/TK Holy Yadha: Komitmen pada Pendidikan Anak Usia Dini yang Berkualitas.

Pentingnya Monitoring Pendidikan Anak Usia Dini.

     Setiap anak adalah anugerah yang membawa potensi luar biasa. Potensi itu perlu dirawat, dipupuk, dan diarahkan dengan cara yang tepat sejak usia dini. Karena itulah, PAUD/TK Holy Yadha dengan penuh komitmen menyelenggarakan kegiatan Laporan Perkembangan Belajar Murid (LPBM) Triwulan 1 sebagai bagian dari proses pendidikan yang terukur, transparan, dan bermakna.


Mengapa LPBM Penting?

     Laporan Perkembangan Belajar Murid bukan sekadar catatan nilai atau rangkaian angka, melainkan potret perkembangan anak secara menyeluruh. Di dalamnya tercermin:

  • Kemampuan kognitif dan daya pikir anak,
  • Keterampilan bahasa dan komunikasi.
  • Kematangan sosial-emosional.
  • Karakter, kemandirian, dan sikap dalam keseharian.

     Melalui monitoring ini, guru dapat melihat bagaimana anak berkembang dari waktu ke waktu, serta memberikan ruang refleksi bagi orangtua untuk memahami sejauh mana buah hati mereka tumbuh dan belajar.




🌿 Filosofi Pendidikan Holy Yadha.

Di Holy Yadha, kami percaya bahwa pendidikan anak usia dini adalah pondasi kehidupan. Apa yang ditanam hari ini akan menentukan arah masa depan mereka. Karena itu, setiap kegiatan belajar dirancang dengan penuh cinta, kesabaran, dan standar kualitas yang tinggi.

Filosofi kami sederhana namun mendalam:

“Membina anak usia dini dengan hati, membimbing mereka dengan ilmu, dan menuntun mereka menuju masa depan yang berprestasi.”

Kami berkomitmen untuk menghadirkan pendidikan yang tidak hanya mengajarkan pengetahuan, tetapi juga membangun karakter, menanamkan nilai, dan mengasah keterampilan hidup.


📈 Komitmen pada Standar & Kompetensi.

     Kegiatan LPBM ini menjadi bukti nyata bahwa Holy Yadha tidak hanya sekadar mendidik, tetapi juga memantau dan mengukur perkembangan anak secara sistematis. Setiap capaian anak didokumentasikan, dianalisis, dan dikomunikasikan dengan orangtua agar bersama-sama kita dapat memastikan bahwa target kompetensi pendidikan tercapai.

     Kami yakin, kualitas pendidikan tidak hanya diukur dari hasil akhir, tetapi juga dari proses yang konsisten, penuh perhatian, dan berkesinambungan.


👨‍👩‍👧 Sinergi Sekolah & Orangtua.

     LPBM juga menjadi jembatan penting bagi sekolah dan orangtua. Melalui kegiatan ini, kami mengajak orangtua untuk:

  • Lebih dekat dengan proses belajar anak.
  • Menjadi mitra aktif dalam mendukung tumbuh kembang mereka
  • Bersama-sama menciptakan ekosistem pendidikan yang sehat dan positif.

     Karena sejatinya, anak akan berkembang optimal bila sekolah dan keluarga berjalan beriringan dalam mendidik dengan hati dan teladan.

     Dengan semangat kebersamaan, PAUD/TK Holy Yadha terus berkomitmen untuk mencetak generasi anak usia dini yang berkualitas, kompeten, dan berprestasi. LPBM Triwulan 1 hanyalah satu dari sekian banyak bukti nyata bahwa pendidikan di Holy Yadha tidak hanya berbicara, tetapi benar-benar memberikan hasil yang terukur dan berdampak.

    Mari bersama-sama kita jaga langkah kecil anak-anak kita hari ini, karena dari sanalah terbentuk langkah besar mereka di masa depan.



📌 Tertarik Menjadi Bagian dari Keluarga Holy Yadha?

Bagi Bapak/Ibu yang ingin memberikan pendidikan terbaik sejak dini, PAUD/TK Holy Yadha membuka kesempatan pendaftaran bagi putra-putri tercinta.

🌟 Dapatkan pengalaman belajar yang menyenangkan, penuh nilai, dan berkualitas, dengan pendampingan tenaga pendidik yang kompeten.
📞 Hubungi kami untuk informasi lebih lanjut dan jadwal pendaftaran.

Bersama Holy Yadha, mari kita membentuk generasi emas yang siap berprestasi! 🌈

Senin, 08 September 2025

📖 Menyemai Cahaya Masa Depan di Hari Literasi Internasional.

Hari ini, 8 September, kita bersama merayakan Hari Literasi Internasional. Momen ini mengingatkan kita semua bahwa membaca dan menulis bukan sekadar keterampilan, tapi bekal hidup yang sangat penting untuk anak-anak kita.

Coba bayangkan, ketika seorang anak baru bisa mengeja kata pertama - betapa matanya berbinar. Dari situlah mereka mulai membuka pintu menuju dunia yang luas. Literasi adalah fondasi: bukan hanya untuk pintar membaca buku pelajaran, tapi juga untuk membangun karakter, menumbuhkan rasa ingin tahu, dan melatih keberanian berpikir.


🌱 Saat Anak Masih Kecil: Menanam Benih.

Di usia dini, literasi bisa hadir dalam hal-hal sederhana: mendengarkan dongeng sebelum tidur, menyanyi bersama, atau membaca buku bergambar. Dari kegiatan sepele itu, anak belajar menyerap kata-kata, imajinasi, dan kasih sayang. Benih kecil inilah yang kelak tumbuh menjadi pohon cinta belajar sepanjang hidup.


📚 Saat Anak Sekolah: Menguatkan Akar.

Ketika masuk sekolah, anak mulai berhadapan dengan pelajaran dan informasi yang lebih luas. Namun sekarang ada tantangan besar: era digital yang membuat informasi berhamburan begitu cepat. Tidak semua informasi di internet benar, tidak semua berita berkualitas.

Di sinilah peran membaca buku menjadi sangat penting. Buku memberi anak pengetahuan yang lebih mendalam, teruji, dan membuat mereka terbiasa berpikir sebelum menerima sesuatu. Buku melatih fokus, melatih analisis, dan memberi mereka dasar yang kuat untuk memilah mana informasi yang benar, mana yang menyesatkan.



🌟 Peran Orangtua.

Anak-anak belajar dari contoh. Kalau mereka sering melihat orangtuanya membaca, berdiskusi, atau menulis, maka mereka akan menirunya. Sebaliknya, jika hanya dibiarkan tenggelam di layar gawai tanpa pendampingan, maka semangat literasi bisa hilang begitu saja.

Mari jadikan rumah kita sebagai taman literasi kecil: ada waktu membaca bersama, ada kesempatan bercerita, ada kebiasaan menulis sederhana. Dengan cara itu, anak tumbuh bukan hanya cerdas, tapi juga punya karakter yang kuat.

Hari Literasi Internasional mengingatkan kita: teknologi akan selalu berubah, tapi fondasi membaca dan menulis tidak boleh hilang. Justru di tengah derasnya arus digitalisasi, kebiasaan membaca buku adalah jangkar yang menjaga anak-anak tetap kokoh dan punya karakter yang kuat.



Selasa, 26 Agustus 2025

🍊 Belajar dari Jeruk: Kegiatan Sederhana yang Mengasah Otak & Motorik Anak Usia Dini.

Banyak orang tua dan pendidik mungkin menganggap kegiatan mengupas jeruk hanyalah aktivitas sederhana. Namun, di balik kesederhanaannya, kegiatan ini menyimpan banyak manfaat untuk perkembangan anak usia dini. Anak dapat belajar kemandirian, melatih keterampilan motorik halus, sekaligus mengenal konsep sensorik seperti kasar dan halus.


1. Melatih Kemandirian

Menurut teori perkembangan Erik Erikson, anak usia dini berada pada tahap autonomy vs shame and doubt (1,5–3 tahun). Pada tahap ini, anak perlu diberi kesempatan untuk mencoba sendiri berbagai aktivitas agar tumbuh rasa percaya diri dan mandiri. Saat anak berhasil mengupas jeruk, ia merasa bangga karena mampu melakukannya tanpa bantuan orang dewasa.


2. Stimulasi Motorik Halus

Mengupas jeruk melibatkan gerakan jari seperti mencubit, menarik, dan memutar. Aktivitas ini menjadi latihan alami untuk motorik halus. Huffman & Fortenberry (2011) menyatakan bahwa keterampilan motorik halus berhubungan erat dengan kemampuan menulis dan kesiapan anak untuk belajar di sekolah. Dengan kata lain, kegiatan sederhana ini menjadi dasar penting bagi keterampilan akademik anak di masa depan.


3. Mengenal Tekstur Kasar dan Halus

Kulit jeruk terasa kasar, sementara daging buahnya lembut dan halus. Saat anak menyentuh kedua tekstur tersebut, ia belajar membedakan konsep “kasar” dan “halus” secara nyata. Menurut Whiz Kidz Early Learning Centre, eksplorasi tekstur membantu anak mengembangkan sensorik, kognitif, bahasa, bahkan regulasi emosi.


4. Pengalaman Belajar Multisensori

Teori embodied cognition menekankan bahwa pengetahuan dibangun melalui pengalaman langsung tubuh dengan lingkungan. Dalam kegiatan ini, anak tidak hanya menggunakan peraba, tetapi juga:

  • Penciuman → mencium aroma jeruk yang segar.

  • Penglihatan → melihat warna kulit dan isi jeruk.

  • Pengecapan → merasakan manis atau asamnya jeruk.

Keterlibatan banyak indera membuat pengalaman belajar lebih kuat dan bermakna.



5. Bukti Penelitian

Beberapa penelitian mendukung pentingnya stimulasi sederhana ini:

  • Penelitian longitudinal menunjukkan bahwa keterampilan motorik halus merupakan prediktor kuat prestasi akademik anak di masa depan.

  • Anak yang sering berlatih keterampilan motorik halus lebih siap menghadapi tantangan membaca, menulis, dan berhitung di sekolah dasar.

  • Penelitian di Indonesia (Mulyawan dkk., 2023) menemukan bahwa stimulasi sederhana di rumah maupun sekolah berpengaruh signifikan terhadap perkembangan motorik anak usia 3–6 tahun.


Mengupas jeruk dan mengenal tekstur kasar-halus bukan hanya kegiatan mengisi waktu, tetapi juga sarana belajar yang menyenangkan. Anak belajar mandiri, melatih motorik halus, mengenal sensorik, hingga membangun dasar kecerdasan akademik. Mari kita jadikan aktivitas sehari-hari sebagai pengalaman belajar bermakna, baik di sekolah maupun di rumah.



Catatan Kaki:

  1. Erikson, E. H. (1963). Childhood and Society. New York: W. W. Norton & Company. 

  2. Huffman, J., & Fortenberry, C. (2011). Fine Motor Skills and Early Writing Development. Early Childhood Education Journal. 

  3. Whiz Kidz Early Learning Centre. (2022). The Role of Texture Play in Sensory Development

  4. Barsalou, L. W. (2008). Grounded Cognition. Annual Review of Psychology, 59, 617–645. 

  5. Grissmer, D., et al. (2010). Fine Motor Skills and Early Comprehension of the World: Two New School Readiness Indicators. Developmental Psychology. 

  6. Cameron, C. E., et al. (2012). Fine Motor Skills and Executive Function Both Contribute to Kindergarten Achievement. Child Development. 

  7. Mulyawan, R., dkk. (2023). Analisis Perkembangan Motorik Halus Anak Usia 3–6 Tahun. Jurnal Pendidikan Anak Usia Dini, Untirta.

Minggu, 13 Juli 2025

Selamat Datang di Tahun Ajaran 2025/2026. Persiapkan anak usia dini menyambut era Ilmu Pengetahuan dan Tekonologi (IPTEK) dan Artificial Intelligence (AI). 🎉

PAUD/TK HOLY YADHA Sambut Langkah Kecil Menuju Masa Depan Besar 🌈

Hari pertama telah tiba. Senin, pada tanggal 14 Juli 2025 menjadi penanda bahwa perjalanan belajar anak-anak kita dimulai kembali - dalam ruang yang bukan sekadar sekolah, tetapi tempat bertumbuh dalam kasih sayang, keceriaan, dan cita-cita.

Di PAUD/TK HOLY YADHA, kami percaya bahwa setiap anak adalah benih harapan. Dengan bimbingan yang tepat sejak usia dini, mereka akan tumbuh menjadi pribadi yang kuat, cerdas, dan peduli. Maka, tahun ajaran baru ini bukan hanya soal buku dan materi pelajaran - tetapi tentang membangun dasar kehidupan yang kokoh, dari usia yang paling peka dan penuh potensi.



Mengapa Pendidikan Anak Usia Dini Sangat Penting di Era IPTEK dan AI? 🤖📚

Di tengah pesatnya perkembangan teknologi dan kecerdasan buatan, pendidikan anak usia dini bukan lagi sekadar fondasi - tetapi menjadi strategi utama dalam membentuk generasi yang siap menghadapi masa depan.

🔹 Masa Emas Perkembangan Otak.
Menurut para ahli neurologi, 80 - 90% perkembangan otak terjadi sebelum usia 5 tahun. Di masa ini, anak-anak menyerap informasi dengan sangat cepat dan membentuk pola pikir yang akan memengaruhi cara mereka belajar dan berinteraksi di masa depan.

🔹 Adaptasi Terhadap Teknologi Sejak Dini.
Penelitian dari Artificial Intelligence Center Indonesia menunjukkan bahwa AI dapat membantu anak-anak belajar secara lebih personal, interaktif, dan menyenangkan. Anak-anak yang terbiasa dengan teknologi sejak dini akan lebih siap menghadapi tantangan digital dan mampu menggunakan teknologi secara bijak.

🔹 Penguatan Literasi Digital dan Komputasional.
Studi dari Universitas Pendidikan Indonesia menekankan pentingnya literasi AI melalui pembelajaran coding dan robotik di PAUD. Hal ini membantu anak mengembangkan kemampuan berpikir logis, pemecahan masalah, dan kreativitas sejak dini.

🔹 Pondasi Karakter dan Etika Digital.
Pendidikan usia dini juga menjadi tempat pertama anak belajar tentang etika, tanggung jawab, dan empati—nilai-nilai yang sangat penting dalam menghadapi dunia digital yang kompleks dan cepat berubah.

Pandangan Para Ahli 🌍

Di era serba digital ini, para ahli sepakat bahwa AI bisa menjadi sahabat baru bagi pendidikan anak usia dini.

Prof. H.B.A. Jayawardana percaya, AI mampu membuka peluang belajar yang lebih luas dan menyenangkan. Bukan hanya untuk anak pada umumnya, tapi juga bagi mereka yang punya kebutuhan khusus agar bisa belajar dengan cara yang setara dan menarik.

Senada dengan itu, Dr. Ade Suryani menambahkan bahwa AI bisa hadir seperti guru kedua—pintar menyesuaikan diri dengan kebutuhan tiap anak, memberi semangat, dan bahkan membantu mereka mengasah keterampilan sosial.

Namun, Howard Gardner mengingatkan kita lewat teori Multiple Intelligences: setiap anak itu unik. Ada yang unggul di musik, ada yang cemerlang dalam logika, ada juga yang menonjol dalam gerak tubuh atau relasi sosial. Tugas kita adalah mengenali dan menumbuhkan keunikan itu sejak dini, bukan menyeragamkan.

Lalu, Lev Vygotsky menegaskan hal yang tak kalah penting: belajar terbaik selalu lahir dari interaksi manusia. Teknologi boleh canggih, tapi tetap perlu sentuhan guru dan orang tua dalam mendampingi anak di “zona perkembangan proksimal” mereka.

Dari semua pandangan itu, jelas bahwa AI bukan pengganti manusia, melainkan teman yang bisa memperkaya proses belajar. Dengan cara ini, anak-anak bisa tumbuh dalam pendidikan yang lebih adaptif, menyenangkan, dan tetap hangat. 🌈✨


Komitmen Kami untuk Anak-Anak Hebat 🌱

PAUD/TK HOLY YADHA bukan hanya tempat anak-anak belajar mengenal dunia - tetapi juga tempat mereka dikenali, didampingi, dan diberdayakan. Kami tidak hanya mengajarkan angka dan huruf, tetapi juga membangun rasa percaya diri, kemampuan berkomunikasi, dan sikap saling menghargai.

Melalui metode belajar yang menyenangkan dan lingkungan yang aman, kami ingin memastikan bahwa setiap anak merasa diterima, dicintai, dan diberi ruang untuk tumbuh menjadi versi terbaik dirinya.

💖 Selamat datang kembali, anak-anak hebat. Mari kita isi hari-hari dengan senyum, tawa, dan mimpi yang tumbuh bersama.

Jumat, 27 Juni 2025

Melangkah Bersama Anak di Tahun Baru Islam 1447 H.

Menanamkan Makna Hijrah dengan Cinta dan Keteladanan

Tahun Baru Hijriah datang tanpa gemerlap lampu atau pesta semalam suntuk. Ia datang seperti fajar yang perlahan merekah- sunyi, tapi penuh harap. Tahun 1447 H adalah undangan bagi kita, orang dewasa, untuk berhijrah: bukan ke kota baru, tapi ke versi diri yang lebih bijak, lebih lembut… lebih hadir.

Dan untuk anak-anak kita, yang matanya masih penuh cahaya dan hatinya masih polos, ini adalah waktu terbaik untuk memperkenalkan kisah Nabi Muhammad ﷺ yang menempuh perjalanan hijrah dengan keyakinan, pengorbanan, dan cinta. Bukan lewat ceramah, tapi lewat pelukan, cerita sebelum tidur, dan keteladanan sehari-hari.




Bagaimana Cara Mengajak Anak Mengenal Tahun Baru Islam?

  1. Cerita yang Menghidupkan Iman.
    Bacakan kisah hijrah bukan sebagai pelajaran sejarah, tapi sebagai pesan yang penuh makna. Katakan, “Rasulullah pernah merasa takut, tapi beliau tetap melangkah karena Allah bersamanya.” Anak-anak akan mengerti, karena mereka tahu rasanya takut… dan butuh keberanian untuk tetap melangkah.
  2. Pohon Harapan dan Niat Baik.
    Di dinding rumah atau kelas, buat pohon dari karton. Ajak anak menempelkan daun-daun kertas bertuliskan harapan mereka, seperti “aku ingin lebih baik pada adikku” atau “aku akan mengucap terima kasih lebih sering.” Hijrah kecil yang besar dampaknya.
  3. Berbagi yang Membekas di Hati.
    Libatkan anak dalam kegiatan berbagi - membungkus mainan untuk disumbangkan, menyiapkan makanan kecil bagi tetangga. Bukan untuk formalitas, tapi agar mereka tahu bahwa bahagia itu bukan hanya ketika menerima, tapi juga saat memberi.




Kita Adalah Kompas Mereka

Anak-anak tak belajar dari apa yang kita katakan sebanyak dari bagaimana kita hidup. Maka, mungkin hijrah terbaik yang bisa kita lakukan di tahun baru ini adalah menjadi orang tua dan pendidik yang lebih sabar, lebih tulus, lebih terbuka mendengar. Karena di mata mereka, kita adalah cermin tentang seperti apa cinta dan iman itu seharusnya tampak.

Rabu, 18 Juni 2025

Laporan Hasil Belajar Siswa T.A. 2024/2025: Merayakan Perkembangan, Mengiringi Perpisahan, dan Menyambut Awal Baru.

🌟 Lebih dari Sekadar Laporan - Ini Adalah Tonggak Perjalanan!

Laporan Hasil Belajar bukan hanya refleksi atas pencapaian akademik, tetapi juga jejak perjalanan tumbuh kembang anak. Dari langkah pertama memasuki kelas hingga setiap eksplorasi dan pengalaman baru, laporan ini menjadi saksi bagaimana mereka bertumbuh dalam aspek kognitif, sosial, emosional, dan motorik.

🎭 Momen Perpisahan: Menghargai Perjalanan yang Telah Dilewati

Selain menjadi kesempatan untuk memahami perkembangan anak, kegiatan ini juga menandai perpisahan bagi peserta didik yang telah menyelesaikan masa belajarnya di PAUD/TK HOLY YADHA.

Setiap senyum, tawa, dan pencapaian mereka selama berada di sekolah adalah bagian dari proses belajar yang akan terus menjadi bekal dalam langkah berikutnya. Perpisahan bukanlah akhir, melainkan sebuah transisi menuju dunia yang lebih luas - ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi, di mana mereka akan menghadapi tantangan baru dengan semangat yang telah ditanamkan sejak dini.

Kami mengucapkan selamat dan sukses bagi peserta didik yang akan melanjutkan perjalanan pendidikan mereka, semoga mereka terus belajar dengan antusias dan berkembang menjadi pribadi yang berani dan penuh percaya diri!


🚀 Tahun Ajaran Baru: Awal Baru, Semangat Baru!

Seiring dengan perpisahan, kami juga menyambut Tahun Ajaran Baru 2025/2026, di mana kita akan kembali mengisi ruang kelas dengan tawa, eksplorasi, dan pengalaman baru. Para peserta didik yang tetap melanjutkan perjalanan bersama kami akan memasuki fase perkembangan yang lebih menantang, sementara peserta didik baru akan mengenal dunia PAUD dengan penuh rasa ingin tahu.

Kami percaya bahwa setiap anak memiliki potensi luar biasa yang siap dikembangkan, dan kami berkomitmen untuk terus menciptakan lingkungan belajar yang penuh keceriaan, inspirasi, dan dukungan.

🌈Bersama, Kita Melangkah Menuju Masa Depan

Saat kita memberikan laporan hasil belajar ini, kita tidak hanya melihat pencapaian dalam angka atau catatan akademik. Kita merayakan setiap usaha, setiap keberanian, dan setiap mimpi kecil yang mulai tumbuh.

Mari kita berikan apresiasi bagi peserta didik yang telah menyelesaikan masa belajarnya dan sambut dengan hangat mereka yang akan memulai perjalanan baru. Dengan dukungan orangtua, pendidik, dan lingkungan sekolah, kita dapat memastikan bahwa setiap langkah anak adalah langkah menuju masa depan yang penuh harapan!

Jumat, 06 Juni 2025

Menanamkan Nilai Pengorbanan dan Keikhlasan dalam Pendidikan Anak Usia Dini di Hari Raya Idul Adha 1446 H.

Setiap tahun, umat Islam di seluruh dunia merayakan Hari Raya Idul Adha, hari yang penuh dengan makna dan pelajaran kehidupan. Di balik ibadah kurban, ada kisah luar biasa tentang keikhlasan dan pengorbanan yang diajarkan oleh Nabi Ibrahim AS dan Nabi Ismail AS. Kisah ini bukan hanya tentang sejarah, tetapi juga tentang nilai-nilai yang bisa kita tanamkan pada anak-anak sejak dini yaitu tentang kesabaran, ketulusan, dan kepedulian terhadap sesama.

Sebagai orang tua dan pendidik, kita memiliki peran penting dalam membantu anak memahami makna sejati dari Idul Adha. Mereka mungkin belum sepenuhnya mengerti tentang konsep pengorbanan seperti dalam kisah Nabi Ibrahim, tetapi kita bisa mengajarkan mereka melalui pengalaman yang lebih dekat dengan kehidupan mereka.

Bagaimana Mengajarkan Nilai Pengorbanan dan Keikhlasan?

  1. Menceritakan Kisah dengan Cara yang Menarik.
    Anak-anak sangat suka mendengarkan cerita. Kita bisa mengisahkan perjalanan Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail dengan penuh ekspresi, sehingga mereka bisa membayangkan bagaimana keikhlasan dan ketulusan itu bekerja dalam kehidupan.

  2. Belajar dari Hal-Hal Kecil Sehari-hari.
    Pengorbanan bukan selalu tentang hal besar. Kita bisa mengajarkan anak-anak bahwa berbagi mainan dengan teman, membantu orang tua di rumah, atau menyisihkan sebagian makanan mereka untuk yang membutuhkan adalah bentuk pengorbanan yang nyata dalam kehidupan mereka.

  3. Melibatkan Anak dalam Proses Kurban.
    Meskipun anak belum bisa memahami sepenuhnya, mereka bisa diajak untuk melihat bagaimana hewan kurban dipilih dan dibagikan. Dengan cara ini, mereka belajar bahwa berbagi adalah bagian dari ajaran agama dan kehidupan sosial yang baik.




Idul Adha dan Pendidikan Karakter Anak Usia Dini

Lebih dari sekadar perayaan, Idul Adha bisa menjadi momen penting untuk membangun karakter anak-anak kita. Mereka belajar bahwa berbuat baik tidak harus menunggu imbalan, bahwa memberi itu lebih berharga daripada menerima, dan bahwa kesabaran adalah kunci dalam menghadapi berbagai hal dalam hidup.

Kita bisa memanfaatkan kesempatan ini untuk mengajak anak berpikir tentang orang-orang yang kurang beruntung, mengajarkan bahwa makanan dan kebahagiaan yang kita nikmati adalah bagian dari keberkahan yang harus kita syukuri. Dengan begitu, mereka tidak hanya merayakan Idul Adha sebagai hari libur, tetapi juga sebagai momen pembelajaran yang penuh makna.

Idul Adha bukan hanya tentang kurban, tetapi juga tentang membentuk hati yang penuh kasih dan peduli. Ketika kita membantu anak-anak memahami makna pengorbanan dan keikhlasan, kita sedang menanamkan benih kebaikan yang akan tumbuh sepanjang hidup mereka.

Mari jadikan Idul Adha 1446 H sebagai momen untuk mengajarkan anak-anak tentang berbagi, peduli, dan berbuat baik tanpa pamrih. Karena di balik setiap kurban, ada cinta, ketulusan, dan harapan untuk masa depan yang lebih baik.

Selamat Hari Raya Idul Adha 1446 H (06 Juni 2025)! 🌙✨

Semoga keberkahan selalu menyertai keluarga kita.

Kamis, 29 Mei 2025

Memperingati Kenaikan Yesus Kristus (2025) : Kasih yang Tetap Hadir dalam Pendidikan dan Keberagaman.

Kenaikan Yesus Kristus adalah momen penuh sukacita! Bukan hanya tentang Mesias yang kembali ke surga, tetapi juga tentang janji-Nya yang tetap hadir dalam hidup kita. Sama seperti seorang guru yang membimbing murid-muridnya hingga mereka siap melangkah sendiri, Yesus memberikan teladan cinta dan kebijaksanaan yang bisa kita teruskan, terutama dalam pendidikan anak usia dini dan kehidupan yang penuh keberagaman di Indonesia.


Mengajarkan Kasih dalam Pendidikan Anak Usia Dini

Anak-anak adalah pelajar kecil yang luar biasa! Mereka belajar bukan hanya dari buku, tetapi juga dari keteladanan, cerita, dan pengalaman sehari-hari. Kenaikan Yesus Kristus mengajarkan tentang harapan, keberanian, dan kasih - nilai-nilai yang penting untuk ditanamkan dalam pendidikan anak usia dini.

Dengan pendekatan yang penuh keceriaan, seperti cerita interaktif, nyanyian, dan permainan, anak-anak dapat memahami bahwa kasih Yesus Kristus tetap ada meskipun secara fisik Ia tidak terlihat. Seperti cahaya mentari yang menyinari kita setiap hari, kasih-Nya selalu hadir, memberi semangat dan kekuatan.




Merayakan Keberagaman dengan Kasih dan Penghormatan

Indonesia kaya akan budaya dan agama, dan itu adalah keindahan yang harus dirayakan! Kenaikan Yesus Kristus diperingati sebagai hari libur nasional, mengingatkan kita bahwa kita hidup berdampingan dalam keberagaman.

Dalam pendidikan anak usia dini, kita bisa mengenalkan konsep toleransi dengan cara yang menyenangkan. Misalnya, melalui cerita tentang persahabatan antar anak dari latar belakang berbeda, atau kegiatan seni yang menggabungkan unsur-unsur budaya. Yesus Kristus mengajarkan kasih kepada semua orang tanpa memandang latar belakang, hal ini bisa menjadi inspirasi untuk membangun hubungan yang harmonis dan penuh cinta di tengah keberagaman budaya, agama. dan sebagainya.


Menumbuhkan Generasi yang Penuh Harapan & Kasih

Kenaikan Yesus Kristus bukanlah akhir, melainkan awal dari perjalanan baru dengan Roh Kudus sebagai pembimbing. Dengan menanamkan nilai kasih, harapan, dan penghormatan sejak dini, kita membentuk generasi yang tidak hanya cerdas dan berbakat, tetapi juga berhati penuh cinta.

Mari kita rayakan Kenaikan Yesus Kristus tahun 2025 dengan penuh sukacita, terus menyebarkan kasih dalam pendidikan dan kehidupan sehari-hari! 😊🎉

Minggu, 11 Mei 2025

Hari Raya Waisak, Pendidikan Anak Usia Dini, dan Nilai-Nilai Pancasila.

Perayaan Hari Raya Waisak

Hari Raya Waisak bukan hanya perayaan bagi umat Buddha, tetapi juga momen refleksi tentang kebajikan universal yang dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Dalam konteks pendidikan anak usia dini, Waisak membawa nilai-nilai seperti kesederhanaan, kebijaksanaan, dan empati—yang sejalan dengan ajaran Pancasila, terutama dalam hal keberagaman dan toleransi.

Membangun Sikap Saling Menghormati dalam Keberagaman

Indonesia adalah negara dengan keberagaman agama dan budaya yang kaya. Pendidikan anak usia dini menjadi fondasi penting untuk menanamkan nilai saling menghormati sejak dini. Waisak, sebagai perayaan yang menonjolkan kepedulian dan kedamaian, dapat menjadi momentum yang tepat untuk mengajarkan anak tentang pentingnya menghargai perbedaan.

Beberapa cara mengintegrasikan nilai keberagaman dalam pendidikan anak usia dini:
Cerita tentang tokoh-tokoh inspiratif dari berbagai agama → Mengajarkan bahwa kebajikan dapat ditemukan di setiap keyakinan
Kegiatan berbagi dan gotong royong → Membangun sikap peduli terhadap sesama tanpa memandang perbedaan
Menampilkan simbol dan tradisi dari berbagai agama → Mengenalkan anak pada kekayaan budaya tanpa bias

Waisak dan Nilai-Nilai Pancasila

Nilai-nilai utama dalam perayaan Waisak beriringan dengan prinsip-prinsip Pancasila:

1️⃣Ketuhanan Yang Maha Esa – Mengajarkan anak bahwa setiap orang berhak menjalankan keyakinannya dengan damai.

2️⃣Kemanusiaan yang Adil dan Beradab – Mengajarkan empati dan kepedulian terhadap sesama melalui tindakan nyata, seperti berbagi dengan mereka yang kurang beruntung.

3️⃣Persatuan Indonesia – Mengingatkan bahwa perbedaan keyakinan bukanlah pemisah, tetapi justru kekuatan yang menyatukan bangsa.

4️⃣Kerakyatan yang Dipimpin oleh Hikmat Kebijaksanaan dalam Permusyawaratan Perwakilan – Anak-anak diajarkan pentingnya berpikir sebelum bertindak dan mempertimbangkan kepentingan bersama.

5️⃣Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia – Membentuk karakter anak yang peduli pada keadilan, kesederhanaan, dan kesejahteraan bersama.



Mengajarkan Anak tentang Toleransi melalui Perayaan Waisak

Pada perayaan Waisak, umat Buddha menggelar berbagai kegiatan yang dapat menjadi inspirasi untuk pembelajaran toleransi:
🌱 Pindapata (Berbagi Kepada Sesama) → Anak-anak bisa diajarkan berbagi makanan dengan teman-teman dari berbagai latar belakang.
🕊️ Pelepasan Lampion → Menjadi simbol harapan untuk masa depan yang penuh perdamaian bagi semua.
🧘 Meditasi dan Refleksi → Membantu anak memahami pentingnya ketenangan, introspeksi, dan berpikir positif tentang orang lain.



Dengan pendekatan pendidikan yang sejalan dengan nilai-nilai Waisak dan Pancasila, anak-anak dapat tumbuh menjadi individu yang menghormati keberagaman dan berkontribusi bagi masyarakat yang lebih harmonis.

Jumat, 02 Mei 2025

Selamat Memperingati Hari Pendidikan Nasional 2025.

Menanam Benih Harapan di Hari Pendidikan Nasional

Setiap tanggal 2 Mei, Indonesia merayakan Hari Pendidikan Nasional — sebuah momentum refleksi tentang peran pendidikan dalam membentuk masa depan bangsa. Namun, fondasi utama bagi generasi unggul bukanlah saat mereka menginjak bangku sekolah dasar atau perguruan tinggi, melainkan sejak mereka mulai mengenal dunia: di usia dini.

Pendidikan Anak Usia Dini: Fondasi Masa Depan

Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) memegang peran krusial dalam pembentukan karakter, kecerdasan, serta kesejahteraan emosional anak-anak kita. Jean Piaget, seorang ahli psikologi perkembangan, menekankan bahwa anak-anak di usia dini belajar melalui eksplorasi dan pengalaman langsung. Melalui bermain, interaksi sosial, serta kehangatan lingkungan, mereka mengembangkan keterampilan kognitif dan sosial yang menjadi bekal utama dalam perjalanan hidup mereka.

Menurut Lev Vygotsky, interaksi sosial memiliki peran penting dalam pembelajaran anak. Melalui dukungan orang tua dan guru, mereka dapat membangun pemahaman yang lebih kompleks tentang dunia. Oleh karena itu, PAUD bukan hanya tentang mengenalkan huruf dan angka, tetapi juga menanamkan rasa ingin tahu, membangun kepercayaan diri, serta mengembangkan kemampuan berpikir kritis sejak dini.



Investasi Terbaik untuk Masa Depan

Hari Pendidikan Nasional mengingatkan kita bahwa investasi terbaik bagi masa depan bangsa adalah pendidikan yang bermakna sejak usia dini. John Dewey, tokoh pendidikan progresif, menggarisbawahi bahwa pendidikan bukan hanya transfer ilmu, melainkan pengalaman yang membentuk karakter dan nilai-nilai kehidupan. Dengan pendekatan yang tepat, anak-anak akan tumbuh menjadi individu yang mandiri, kreatif, dan siap menghadapi tantangan dunia.

Maka, marilah kita jadikan setiap momen belajar sebagai ladang menanam benih harapan. Agar kelak, mereka tumbuh menjadi pohon yang kokoh, memberikan keteduhan serta manfaat bagi banyak orang.


🌱📖 Selamat Hari Pendidikan Nasional 2025!
Mari terus berkomitmen untuk memberikan pendidikan berkualitas bagi generasi masa depan!

#Pendidikan Anak Usia Dini
#Taman Kanak-kanak
#PAUD/TK HOLY YADHA 
#HariPendidikanNasional 
#PendidikanUntukSemua

Jumat, 18 April 2025

Mengajarkan Kasih Melalui Peringatan Wafat Yesus Kristus pada Pendidikan Anak Usia Dini.

 Peringatan wafat Yesus Kristus, atau yang kita kenal sebagai Jumat Agung, bukan hanya momen spiritual yang mendalam bagi umat Kristen, tetapi juga sebuah kesempatan untuk menanamkan nilai-nilai luhur pada anak-anak usia dini. Nilai seperti kasih, pengorbanan, dan kepedulian kepada sesama menjadi inti dari refleksi hari yang penuh makna ini.

Dalam konteks pendidikan anak usia dini, momen ini dapat menjadi sarana untuk mengenalkan cinta dan pengorbanan melalui pendekatan yang sederhana dan penuh kasih. Kisah tentang Yesus yang rela memberikan dirinya demi cinta kepada umat manusia dapat disampaikan dengan cara yang sesuai untuk anak-anak, seperti melalui cerita bergambar, lagu, atau permainan interaktif. Hal ini bertujuan untuk membangun pemahaman bahwa kasih adalah hal yang indah untuk dibagikan kepada orang lain.



Selain itu, Jumat Agung juga menjadi momen untuk mengajarkan nilai-nilai pengampunan. Dengan bahasa yang sederhana, anak-anak dapat diajak untuk memahami pentingnya memaafkan teman yang berbuat salah dan berbuat baik tanpa pamrih. Nilai ini adalah dasar pembentukan karakter yang kuat di usia dini.

Aktivitas seperti menggambar simbol hati atau salib, bermain peran tentang saling membantu, hingga membaca cerita pendek tentang kasih, bisa menjadi bagian dari kegiatan di kelas untuk memperingati Jumat Agung. Dengan metode yang kreatif dan menyenangkan, anak-anak diajak merayakan nilai-nilai positif yang Yesus ajarkan melalui pengorbanan-Nya.

Pada akhirnya, peringatan wafat Yesus Kristus mengingatkan kita semua bahwa pendidikan bukan hanya sekadar transfer ilmu, tetapi juga transfer nilai. Anak-anak yang dibimbing dengan kasih akan tumbuh menjadi pribadi yang peduli, penuh empati, dan membawa semangat positif bagi lingkungan di sekitarnya. Jumat Agung menjadi kesempatan yang indah untuk menanamkan hal tersebut sejak usia dini, menjadikan kasih sebagai fondasi bagi generasi mendatang.



Selasa, 08 April 2025

Mengatasi Penularan Virus di Lingkungan Sekolah PAUD/TK: Pengalaman Berharga Selama 20 Tahun.

Sejak berdiri pada tahun 2005, PAUD/TK HOLY YADHA telah berkomitmen untuk menciptakan lingkungan belajar yang nyaman dan sehat bagi seluruh murid dan tenaga pengajar. Selama lebih dari 20 tahun beroperasi, salah satu tantangan yang terus muncul adalah penularan virus seperti batuk dan flu, yang kerap dibawa oleh murid-murid dan kemudian menyebar ke teman-teman mereka maupun guru di lingkungan sekolah.

Menurut Dr. Sarah White, seorang ahli kesehatan masyarakat dari University of California, anak-anak prasekolah lebih rentan terhadap penularan virus karena sistem imun mereka yang sedang berkembang, serta tingginya interaksi fisik di antara mereka. Dr. White juga menekankan pentingnya edukasi tentang kebiasaan sehat, seperti mencuci tangan dan memakai masker, untuk memutus rantai penyebaran penyakit.

Selain itu, Dr. Heru Widjaja, seorang praktisi kesehatan anak, mengingatkan bahwa ventilasi yang baik di ruang kelas dapat membantu mengurangi konsentrasi virus di udara. "Sekolah perlu mengintegrasikan langkah-langkah pencegahan, seperti memastikan sirkulasi udara yang cukup dan kebiasaan sanitasi yang baik, sebagai bagian dari rutinitas harian," ujarnya.



PAUD/TK HOLY YADHA telah mengambil langkah-langkah konkret untuk mengatasi permasalahan ini, seperti penerapan protokol kesehatan yang ketat, penyediaan fasilitas mencuci tangan di setiap sudut sekolah, dan pemberian edukasi kepada murid tentang pentingnya menjaga kebersihan diri. Kami percaya bahwa kerja sama antara sekolah, orang tua, dan anak-anak menjadi kunci utama dalam menjaga kesehatan bersama.

Dengan pengalaman dan pelajaran selama dua dekade, PAUD/TK HOLY YADHA terus berinovasi untuk menciptakan lingkungan belajar yang aman dan sehat bagi generasi masa depan.

Senin, 31 Maret 2025

🌟 Menanamkan Nilai Hari Raya Idul Fitri 1446 Hijriah dalam Pendidikan Anak Usia Dini. 🌟

Menanamkan Nilai Hari Raya Idul Fitri 1446 Hijriah dalam Pendidikan Anak Usia Dini
(Menumbuhkan Rasa Hormat, Kebhinekaan, dan Nasionalisme)


Hari Raya Idul Fitri adalah momen penuh suka cita yang tidak hanya menjadi perayaan religi tetapi juga peluang untuk memperkuat rasa saling menghormati, menghargai, dan cinta tanah air. Di tengah keberagaman budaya, suku, dan agama yang ada di Indonesia, Idul Fitri adalah waktu yang tepat untuk memupuk kebhinekaan sebagai salah satu pilar utama kehidupan berbangsa dan bernegara.


Pentingnya Menghormati Keberagaman
Sebagai negara dengan masyarakat yang heterogen, Indonesia kaya akan perbedaan yang harus dijunjung tinggi. Anak-anak usia dini, sebagai generasi penerus, perlu diajarkan pentingnya menghormati orang lain, terlepas dari latar belakang budaya, bahasa, atau agama. Nilai saling menghormati ini dapat diwujudkan melalui interaksi positif selama perayaan Idul Fitri, seperti mengunjungi tetangga yang berbeda keyakinan, berbagi makanan khas hari raya, atau menyampaikan ucapan selamat dengan tulus.




Merayakan Kebhinekaan di Idul Fitri
Tradisi Idul Fitri menawarkan kesempatan unik untuk merayakan kebhinekaan. Anak-anak dapat diajak memahami bahwa keberagaman adalah kekayaan yang memperkuat ikatan sosial. Misalnya, mereka dapat diajarkan tentang makanan khas yang berbeda dari berbagai daerah, seperti ketupat di Jawa, opor ayam di Sumatera, atau kue lapis di Papua. Dengan cara ini, mereka belajar menghargai keragaman budaya yang ada di Indonesia.


Menanamkan Rasa Nasionalisme
Hari Raya Idul Fitri juga menjadi momen untuk menanamkan rasa cinta tanah air kepada anak-anak. Salah satu cara yang efektif adalah dengan mengenalkan mereka pada sejarah dan pentingnya kebersamaan sebagai bangsa. Kisah perjuangan kemerdekaan Indonesia yang mengedepankan persatuan dapat dihubungkan dengan nilai-nilai Idul Fitri, seperti kerja sama dan solidaritas. Selain itu, kegiatan sederhana seperti mengibarkan bendera merah putih di rumah saat perayaan Idul Fitri dapat menjadi simbol nasionalisme yang menyentuh hati anak-anak.


Pendidikan Berbasis Keteladanan
Orang tua dan pendidik memiliki peran besar dalam menunjukkan sikap menghormati dan menghargai. Keteladanan dalam bersikap kepada orang lain, berbicara dengan bahasa yang penuh sopan santun, dan mengakui keindahan perbedaan adalah cara paling efektif untuk menanamkan nilai-nilai ini pada anak usia dini. Ketika anak melihat contoh nyata, mereka lebih mudah memahami dan menginternalisasi nilai tersebut.

Hari Raya Idul Fitri bukan hanya sebuah perayaan, tetapi juga momen penting untuk membangun karakter anak-anak yang penuh kasih, hormat, dan cinta tanah air. Melalui integrasi nilai-nilai Idul Fitri dalam pendidikan anak usia dini, kita dapat membentuk generasi yang menghargai kebhinekaan, memiliki semangat nasionalisme, dan menjadi pelopor perdamaian di masa depan.

Mari kita jadikan hari kemenangan ini sebagai momentum mempererat rasa persatuan, cinta tanah air, dan semangat kebangsaan. Dalam semangat Idul Fitri, kita merajut kembali tali persaudaraan, bukan hanya dengan keluarga dan tetangga, tetapi juga dengan seluruh rakyat Indonesia tanpa memandang perbedaan. Dengan kebhinekaan sebagai kekuatan, kita mampu membangun bangsa yang kokoh, bersatu, dan berdaulat. Selamat Idul Fitri 1446 Hijriah, mari bersama melangkah menuju Indonesia yang lebih harmoni dengan pendidikan anak usia dini yang berkarakter dan berkualitas.